Jumat, 04 Januari 2013

SETELAH matahari terbenam dan langit mulai gelap, sepanjang Jalan Stasiun Kereta Api Jatinegara hingga seberang Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur, tiba-tiba menjadi pemandangan yang ramai dipadati para Pekerja Seks Komersial (PSK).
Pemandangan itu ternyata sudah menjadi sebuah kelaziman di daerah tersebut. Bahkan, fenomena ini sudah menjadi penyakit masyarakat sejak beberapa tahun silam. Para PSK yang berjejer atau mejeng di sepanjang jalan tersebut memiliki rentang usia berbeda, mulai dari wanita paruh baya, remaja, hingga waria. Sesaat, penampilan keseluruhan PSK itu memang terlihat sangat menggiurkan hasrat birahi.
Pemantauan Berita Kota pada Senin (22/11) malam, para PSK wanita berusia paruh baya yang bercampur dengan waria mulai melakukan aktivitasnya di bawah kolong jembatan flyover atau sekitar 100 meter dari Stasiun KA Jatinegara. Di lokasi ini, para PSK biasanya mengerubungi konser dangdut keliling yang speaker-nya ditempatkan di atas gerobak.
Biduan wanita juga melakukan aksinya dengan pakaian yang cukup minim. Dengan hanya mengenakan celana pendek sepaha dan kaus ketat, biduan tersebut memeragakan tarian erotis khas dangdut.
Sasaran si biduan dan PSK di tempat ini biasanya para tukang ojek sepeda motor. Ketika si penyanyi beraksi, tukang ojek mengelilinginya sambil berjoget. Saat itu pula para PSK mulai mendekati mangsanya.
“Kalau di sini mah PSK-nya kebanyakan sudah ibu-ibu di atas umur 30-an, Mas. Kalau di sana (sambil menunjuk arah Jalan Raya Bekasi Timur depan Rutan Cipinang—Red), banyak yang ABG (anak baru gede—Red),” papar Parmin (bukan nama sebenarnya), salah satu penjual minuman di lokasi tersebut.
Namun, lanjutnya, lokasi tempat ABG banyak dikerumuni PSK waria. “Mau cari yang mana, Mas? Jangan sampai kecele,” tutur Parmin sambil terkekeh.
Kelompok waria
Pengakuan Parmin ternyata benar. Tak jauh dari lokasi dangdutan, belasan waria berpakaian minim berjejer menjajakan kemolekan tubuh dan dandanan menornya kepada para pria hidung belang, baik yang menepi maupun pengguna jalan yang hanya melintas.
Tak sedikit pula pria hidung belang menggunakan kendaraan bermotor menghampiri kelompok PSK waria yang beroperasi di pinggir jalan itu. Untuk “bermain” dengan para waria, harga yang dibanderol tergolong murah. Dengan tarif mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 100.000 saja, para pria hidung belang sudah bisa memuaskan birahinya kepada si waria.
Awalnya, PSK pria yang berdandan seperti wanita itu mematok harga Rp 100.000. Namun, jika ditawar setengah dari banderolnya, si waria langsung menyetujui.
Jika transaksi berjalan mulus, biasanya si waria dan konsumennya melakukan hubungan seksual di pinggir rel kereta api atau di dalam semak-semak di belakang tembok pembatas Jalan Raya Bekasi Timur dan rel kereta api.

0 komentar:

Posting Komentar

Sample Text

Follow Us on Facebook



JOIN WITH US

Popular Posts